Gerakan Pemberdayaan Masyarakat Sebuah Tinjauan Konsep Dalam Upaya Menekan Penyalahgunaan Narkoba (Pusat Promkes, 2005)

  1. 1.       Pengertian
  • Gerakan pemberdayaan (empowerment) adalah proses pemberian informasi secara terus-menerus dan berkesinambungan mengikuti perkembangan sasaran, serta proses membantu sasaran, agar sasaran tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar (aspek knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek attitude), dan dari mau menjadi mampu melaksanakan perilaku yang diperkenalkan (aspek practice).
  • Gerakan pemberdayaan masyarakat juga merupakan cara untuk menumbuhkan dan mengembangkan norma yang membuat masyarakat mampu untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Strategi ini tepatnya ditujukan pada sasaran primer agar berperan serta secara aktif.
  • Gerakan pemberdayaan masyarakat merupakan suatu upaya dalam peningkatan kemampuan masyarakat guna mengangkat harkat hidup, martabat dan derajat kesehatannya. Peningkatan keberdayaan berarti peningkatan kemampuan dan kemandirian masyarakat agar dapat mengembangkan diri dan memperkuat sumber daya yang dimiliki untuk mencapai kemajuan.
  1. 2.       Tujuan
  • Individu, keluarga dan masyarakat tahu, mampu dan mau mempraktekkan serta dapat memelihara, mengatasi serta meningkatkan kesehatannya secara mandiri
  • Individu, keluarga dan masyarakat tahu, mampu dan mau berperan serta dalam gerakan pemberdayaan di wilayahnya.
  • Masyarakat melakukan kegiatan pembangunan kesehatan melalui pendekatan edukatif
  • Adanya upaya kesehatan yang bersumberdaya dari potensi yang ada di masyarakat (dari, oleh dan untuk masyarakat)
  • Adanya informasi tentang hasil pelaksanaan kegiatan gerakan pemberdayaan masyarakat di bidang upaya pelayanan kesehatan dalam bentuk desa sehat.
  1. 3.       Sasaran
  1. Sasaran utama dari gerakan pemberdayaan adalah individu dan keluarga, serta kelompok masyarakat, terutama masyarakat yang terkena masalah maupun beresiko terkena masalah, baik dikota maupun didesa. Contoh: ditatanan rumah tangga adalah para ibu, ditatanan institusi pendidikan adalah murid-murid disarana pelayanan adalah petugas kesehatan.
  2. Tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan serta organisasi profesi
  3. Lintas sektor
  4. Petugas kesehatan
  1. 4.       Metode gerakan pemberdayaan

Pengorganisasian masyarakat sebagai salah satu metode pemberdayaan masyarakat yang bersifat komprehensif perlu dikembangkan di desa-desa/kelurahan-kelurahan/nagari-nagari secara bertahap.

Pendekatan yang dilakukan adalah melalui pengembangan daerah-daerah percontohan sesuai dengan program kesehatan yang didukung (misalnya Desa Siaga untuk KIA).  Daerah-daerah Percontohan ini selain dapat digunakan sebagai alat untuk advokasi guna replikasinya ke daerah-daerah (desa-desa/kelurahan-kelurahan/nagari-nagari lain), juga dapat digunakan sebagai lahan kerja lapangan dalam pelatihan petugas.

Sebelum petugas kesehatan melakukan upaya pemberdayaan di masyarakat, terlebih dahulu dilakukan upaya pemberdayaan petugas kesehatan. Metode yang paling efektif untuk pemberdayaan petugas adalah pelatihan yang dilaksanakan secara berselang-seling antara kegiatan di kelas dan kegiatan di lapangan (interrupted training). Dengan interrupted training sekaligus dapat diperoleh dua hasil, yaitu petugas-petugas yang terampil dan adanya daerah percontohan.

Pelatihan semacam ini dapat diselenggarakan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten /Kota terhadap petugas-petugas promosi kesehatan di Puskesmas wilayah kerjanya, atau oleh Dinas Kesehatan Provinsi terhadap petugas-petugas promosi kesehatan Kabupaten/Kota dan Puskesmas di wilayah kerjanya.

Untuk memberikan gambaran yang lebih jelas tentang interrupted training, berikut ini disajikan contoh pelaksanaan-nya di bidang KIA.

Adapun tahapan proses interupted training tersebut adalah sebagai berikut:

  • Kegiatan di Kelas (1).

Kegiatan yang dilakukan adalah dinamika kelompok dan pemberian masukan tentang:

(1)      Pengertian promosi kesehatan dan strateginya (termasuk tentang Konsil Kesehatan Kecamatan/K-3),

(2)      Konsep/pengertian pember-dayaan masyarakat (community development) dan proses-nya,

(3)      Detil tahap pertama penggerakan masyarakat, yaitu Survei Mawas Diri Oleh Masyarakat (Community Self-Survey),

(4)      Cara-cara membimbing/memfasilitasi masyarakat, khususnya dalam Survei Mawas Diri.

  • Kegiatan di Lapangan (2).

Peserta kembali ke tempat kerjanya di Puskesmas dan Rumah Sakit untuk:

(1)      Ber-konsultasi & berkoordinasi dengan Puskesmas, Rumah Sakit, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dan pengelola program kesehatan di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota guna memilih satu Desa Siaga Percontohan yang akan dikembangkan,

(2)      Berkoordinasi dengan Camat, tokoh masyarakat, dan LSM setempat untuk membentuk Konsil Kesehatan Kecamatan (K3) dan mengembangkan desa percontohan,

(3)      Berkoordinasi dengan K3 (tokoh masyarakat dan LSM) merekrut kader (jika belum ada) atau menggerakkan kembali kader (jika sudah ada) di desa yang bersangkutan,

(4)      Meminta izin kepada aparat desa yang bersangkutan untuk mengada-kan pertemuan-pertemuan dengan kader, guna menyiap-kan pelaksanaan survei mawas diri, dan lain-lain

(5)      Memfasilitasi/membimbing kader melaksanakan survei mawas diri,

(6)      Bersama kader mengolah hasil survei mawas diri dan menyusun laporan untuk disajikan kepada masyarakat desa dan di kelas. Survei ini mencakup tentang masalah dalam hal ibu melahirkan dan bayi yang baru dilahirkan, penyebab-penyebab terjadinya masalah (tiga terlambat dari sisi demand), kesiagaan suami, kesiagaan bidan di desa, kemungkinan dikembangkannya dasolin dan tabulin, sistem trans-portasi untuk ambulan desa, donor darah, dan lain-lain yang dipandang perlu. Keterampilan yang diberikan adalah sampai kepada bagaimana membantu masyarakat mengolah data dan menganalisis hasil survei. Yaitu kemungkinan memecahkan masalah di bidang kesehatan ibu melahirkan dan bayi baru lahir dengan cara-cara yang ditawarkan (kesiagaan suami, kesiagaan bidan, dasolin, tabulin, amdes, donor darah, dan lain-lain).

  • Kegiatan di Kelas (3).

Kegiatan di kelas dalam tahap ini berupa:

(1)      Masing-masing peserta menyajikan hasil kerja lapangannya yang mencakup baik proses peng-gerakan masyarakat untuk membentuk K3 dan survei mawas diri maupun hasil-hasilnya. Dilanjutkan dengan diskusi pleno untuk mengomentari dan memberi masuk-an guna perbaikannya,

(2)      Pemberian masukan berupa metode/teknik penyuluhan dan medianya, serta pemasaran sosial/marketing public relation (MPR)

(3)      Pemberian masukan tentang bagai-mana melatih kader untuk melakukan penyuluhan dan menggunakan media,

(4)      Pemberian masukan tentang bagaimana menyelenggarakan pertemuan/musyawarah desa,

(5)      Pemberian masukan tentang proses meru-muskan rencana pemecahan masalah dan membentuk organisasi-organisasi pengelola (dasolin, tabulin, amdes, donor darah, dan lain-lain ), dengan kader-kader sebagai pengelolanya,

(6)      Pemberian masukan berupa konsep/ pengertian dan teknik-teknik mengembangkan serta mendayagunakan kemitraan dan advokasi (jejaring advokasi).

  • Kegiatan di Lapangan (4).

Peserta kembali ke tempat kerjanya dan ke Desa Siaga untuk:

(1)      Bersama K3 (tokoh masyarakat dan LSM) melatih kader tentang cara-cara penyuluhan dan penggunaan media,

(2)      Bersama K3 (tokoh masyarakat dan LSM) membantu kader melaksa-nakan penyuluhan kepada ibu-ibu hamil, suami-suami mereka, tetangga, dukun bayi, dan lain-lain yang terkait (termasuk memasarkan PONED dan PONEK),

(3)      Ber-sama K3 (tokoh masyarakat dan LSM) membantu kader memilih bentuk-bentuk pemecahan masalah yang sesuai dan menyelenggarakan musyawarah-musyawarah desa. Dalam hal ini diupayakan untuk memadukan sudut pandang profesional dengan sudut pandang/aspirasi masyarakat, serta saling mengisi antara sumber daya yang dapat disediakan masyarakat dengan sumber daya yang bisa diberikan oleh Puskesmas, Rumah Sakit, dan pemerintah umumnya serta pihak-pihak lain (termasuk dunia usaha),

(4)      Bersama K3 (tokoh masyarakat dan LSM) membantu kader mengidentifikasi pihak-pihak yang dibutuhkan guna mendukung suksesnya peme-cahan masalah (sasaran advokasi/stakeholders), baik dalam hal kebijakan, sarana, dana maupun sumber daya lain,

(5)      Bersama tokoh masyarakat dan LSM mengajak Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melakukan advokasi ke berbagai pihak (stakeholders) yang telah diidentifikasi dan melakukan langkah-langkah membangun kemitraan.

Dalam tahap ini, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota sebaiknya melaksanakan bina suasana bekerjasama dengan media massa, untuk mendukung penyuluhan yang sedang dilaksanakan di tingkat desa

  • Kegiatan di Kelas (5).

Kegiatan di kelas dalam tahap ini berupa:

(1)      Masing-masing peserta menyajikan hasil kerja lapangannya yang mencakup baik proses penggerakan masyarakat untuk penyuluhan, pemecahan masalah, pengorganisasiannya, dan upaya advokasi maupun hasil-hasil dari proses tersebut. Dilanjutkan dengan diskusi pleno untuk mengomentari dan memberi masukan guna perbaikannya,

(2)      Pemberian masukan berupa pemantauan dan evaluasi (sistem informasi) serta upaya-upaya pemeliharaan kelestarian (sustainability) dari Desa Siaga yang telah dikembangkan.

  • Kegiatan di Lapangan (6).

Peserta kembali ke tempat kerjanya dan ke Desa Siaga untuk: Bersama K3 (tokoh masyarakat dan LSM) membantu kader mengembang-kan sistem informasi, pemantauan dan evaluasi.

  • Kegiatan di Kelas (7).

Kegiatan yang dilakukan adalah:

(1) Masing-masing peserta menyajikan hasil kerja lapangannya, dan

(2) Penutupan.

  • Kegiatan di Lapangan (8)

Peserta kembali ke tempat kerja-nya masing-masing untuk secara rutin bersama K3 melakukan pembinaan kelestarian Desa Siaga melalui bimbingan, supervisi, dan hal-hal lain yang dianggap perlu sebagai fungsi Puskesmas dan Rumah Sakit.

  1. 5.       Kunci keberhasilan gerakan pemberdayaan

Pemberdayaan akan lebih berhasil jika dilaksanakan melalui kemitraan serta menggunakan metode dan teknik yang tepat. Pada saat ini banyak dijumpai Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak di bidang kesehatan atau peduli terhadap kesehatan. LSM ini harus digalang kerjasamanya, baik di antara mereka maupun antara mereka dengan pemerintah, agar upaya pember-dayaan masyarakat dapat berdayaguna dan berhasilguna. Setelah itu, sesuai dengan ciri-ciri sasaran serta situasi dan kondisi, lalu ditetapkan, diadakan dan digunakanlah metode dan sarana komunikasi yang tepat.

Kunci keberhasilan gerakan pemberdayaan adalah membuat orang tersebut memahami bahwa sesuatu (misalnya diare) adalah masalah baginya dan bagi masyarakatnya. Sepanjang orang yang bersangkutan belum mengetahui dan menyadari bahwa sesuatu itu merupakan masalah, maka orang tersebut tidak akan bersedia menerima informasi apa pun lebih lanjut. Manakala ia telah menyadari masalah yang diha-dapinya, maka kepadanya harus diberikan informasi umum lebih lanjut tentang masalah yang bersangkutan.

Perubahan dari tahu ke mau pada umumnya dicapai dengan menyajikan fakta-fakta dan mendramatisasi masa-lah. Tetapi selain itu juga dengan mengajukan harapan bahwa masalah tersebut bisa dicegah dan atau diatasi. Di sini dapat dikemukakan fakta yang berkaitan dengan para tokoh masyarakat sebagai panutan (misalnya tentang seo-rang tokoh agama yang dia sendiri dan keluarganya tak per-nah terserang diare karena perilaku yang dipraktikannya).

Bilamana sasaran sudah akan berpindah dari mau ke mampu melaksanakan, boleh jadi akan terkendala oleh dimensi ekonomi. Dalam hal ini kepada yang bersangkutan dapat diberikan bantuan langsung, tetapi yang seringkali dipraktikkan adalah dengan mengajaknya ke dalam proses pengorganisasian masyarakat (community organization) atau pembangunan masyarakat (community development). Untuk itu, sejumlah individu yang telah mau, dihimpun dalam suatu kelompok untuk bekerjasama memecahkan kesulitan yang dihadapi. Tidak jarang kelompok ini pun masih juga memerlukan bantuan dari luar (misalnya dari pemerintah atau dari dermawan). Di sinilah letak pentingya sinkronisasi promosi kesehatan dengan program kesehatan yang didukungnya. Hal-hal yang akan diberikan kepada masya-rakat oleh program kesehatan sebagai bantuan, hendaknya disampaikan pada fase ini, bukan sebelumnya. Bantuan itu hendaknya juga sesuai dengan apa yang dibutuhkan masyarakat.

  1. 6.       Kegiatan gerakan pemberdayaan

Dalam melaksanakan gerakan pemberdayaan masyarakat perlu memperhatikan kondisi, situasi, khususnya sosial budaya masyarakat setempat serta karateristik masyarakat setempat yang dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a)    Masyarakat pembina ( Caring Community )

Yaitu masyarakat yang peduli kesehatan misalnya : LSM kesehatan, organisasi profesi yang bergerak dibidang kesehatan.

b)    Masyarakat setara ( Coping Community )

Yaitu masyarakat yang karena kondisinya kurang memadai sehingga tidak dapat memelihara kesehatannya. Misalnya seorang ibu sadar akan pentingnya memeriksakan kehamilan, tetapi karena keterbatasan ekonomi dan tidak adanya transportasi ibu tidak pergi ke sarana pelayanan kesehatan.

c)    Masyarakat pemula ( Crisis Response Community)

Yaitu masyarakat yang tidak tahu akan pentingnya kesehatan dan belum  didukung oleh fasilitas yang tersedia. Misalnya masyarakat dilingkungan kumuh dan daerah terpencil

Cara pendekatan gerakan pemberdayaan masyarakat terbagi dua :

a)    Makro:

  • Membangun komitmen disetiap jenjang
  • Mengembangkan masyarakat (critical mass)
  • menyediakan petujuk pelaksnaan  dan biaya operasional
  • monitoring dan evaluasi serta koordinasi

b)   Mikro :

  • Menggali potensi yang belum disadari masyarakat. Potensi dapat muncul dari adanya kebutuhan masyarakat(demand creation) yang diperoleh melalui pengarahan, pemberian masukan, dialog, kerjasama dan pendelegasian.
  • Membuat model model percontohan dan prototipe pengembangan masyarakat, seperti menerapkan pendekatan edukatif dan manajemen ARRIF (Analisis, Rumusan,Rencana, Intervensi, Forum komunikasi)
  • Beberapa tolok ukur keberhasilan gerakan masyarakat dapat disebutkan antara lain : peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat, peningkatan kampnye kesehatan oleh masyarakat dan peningkatan dana sehat /JPKM

Kegiatan pokok gerakan pemberdayaan masyarakat

  • Melakukan KIE, kampanye dan kegiatan gerakan pemberdayaan masyarakat di bidang upaya pelayanan kesehatan yang bertujuan untuk meningkatkan kemandirian individu, keluarga dan masyarakat dalam memelihara, mengatasi serta meningkatkan kesehatannya
  • Mengembangkan, mengadakan serta mendistribusikan media KIE untuk mendukung kegiatan gerakan pemberdayaan masyarakat di bidang upaya pelayanan kesehatan.
  • Melakukan kegiatan fasilitasi, bimbingan teknis atau asistensi terhadap pelaksanaan kegiatan PHBS di masyarakat.
  • Bersama dengan masyarakat melakukan kegiatan pendekatan edukatif atau penerapan konsep PKMD
  • penghargaan (insentif), serta peningkatan ekonomi produktif  ( income generating)
  • Melakukan pemantauan dan penilaian kegiatan gerakan pemberdayaan masyarakat di bidang upaya pelayanan kesehatan.

Jenis kegiatan gerakan pemberdayaan

  • Pemberdayaan Individu

Pemberdayaan individu dilakukan oleh setiap petugas institusi kesehatan terhadap individu-individu yang datang memanfaatkan pelayanan kesehatan. Selain itu juga terhadap individu-individu yang menjadi sasaran kunjungan (misal-nya dalam upaya keperawatan kesehatan masyarakat atau usaha kesehatan sekolah).

Tujuan dilakukannya pemberdayaan individu terutama adalah untuk memperkenalkan perilaku baru kepada individu (yang mungkin juga merupakan pengganti dari peri-laku yang selama ini dipraktikkan oleh individu tersebut). Misalnya saja perilaku menimbang balita secara berkala untuk mengetahui perkembangan dan pertumbuhan balita. Perilaku ini dapat diperkenalkan kepada individu-individu ibu yang membawa balitanya berobat ke Puskesmas. Kepada setiap ibu, setelah selesai diberi pelayanan pengobatan untuk balitanya, dapat disampaikan informasi tentang manfaat menimbang balita secara berkala, bagaimana mencatat dan menggunakan catatan (yaitu KMS), dan di mana si ibu dapat melakukan penimbangan yang dimaksud (yaitu di Posyandu).

Ibu yang dikunjungi ke rumahnya, mungkin karena berhenti memeriksakan kandungannya ke Puskesmas, padahal seharusnya masih harus melakukan hal itu (drop out). Atau karena sebab-sebab lain.

Seorang Bapak yang dikunjungi ke rumahnya, mungkin karena yang bersangkutan tidak memberikan kabar sepulang dari konsultasi tentang jamban. Atau tidak datang mengambil obat TBC ke Puskesmas. Atau karena sebab-sebab lain.

Murid sekolah atau madrasah atau santri pesantren yang ditangani secara individu, mungkin karena menderita karies gigi atau gizi kurang, atau masalah kesehatan lain. Saat kunjungan ini dilakukan proses Pemberdayaan sesuai dengan masalah yang dihadapi.

Metode yang digunakan dalam hal ini dapat berupa pilihan atau kombinasi dari: dialog, demonstrasi, konseling, dan bimbingan.

Media komunikasi yang digunakan dapat berupa pilihan atau kombinasi dari: lembar balik, gambar/ foto, dan skema, atau media lain yang mudah digunakan dan dibawa (jika dipakai kunjungan).

  • Pemberdayaan Keluarga

Pemberdayaan keluarga dilakukan oleh petugas intitusi kesehatan yang melaksanakan kunjungan rumah terhadap keluarga.

Yaitu keluarga dari individu pengunjung Puskesmas, atau keluarga-keluarga lain yang berada di wilayah kerja Puskesmas.

Tujuan dilakukannya pemberdayaan keluarga adalah untuk memperkenalkan perilaku baru (yang mungkin sebagai pengganti dari perilaku yang selama ini dipraktikkan keluarga tersebut). Misalnya buang air besar di jamban, mengonsumsi garam beryodium, memelihara taman obat keluarga, menguras bak mandi-menutup persediaan air-mengubur benda-benda buangan yang dapat menahan/menampung air (3M), mengonsumsi makanan berserat.

Pada saat kunjungan rumah ini semua anggota keluarga dikumpulkan dan diberikan informasi berkaitan dengan perilaku yang diperkenalkan. Pemberian informasi dilakukan secara sistematis sehingga anggota-anggota keluarga itu bergerak dari tidak tahu ke tahu, dan dari tahu ke mau. Bila sarana untuk melaksanakan perilaku yang bersangkutan tersedia, diharapkan juga sampai tercapai fase mampu melaksanakan (misalnya: mencuci tangan pakai sabun, BAB di jamban, minum air yang matang, dll).

Metode yang digunakan dapat berupa salah satu atau kombinasi dari: dialog, demonstrasi, diskusi kelompok terarah, dan bimbingan.

Media komunikasi yang digunakan juga dapat berupa pilihan atau kombinasi dari: poster, lembar balik, gambar/foto, dan skema, atau media lain yang mudah digunakan dan dibawa.

  • Pemberdayaan Masyarakat Umum

Gerakan pemberdayaan juga dapat dilakukan terhadap sekelompok individu anggota masyarakat, melalui upaya penggerakan atau pengorganisasian masyarakat (community organization/community development).

Sasarannya dapat berupa orang dewasa, dapat juga murid-murid sekolah atau santri-santri. Salah satu hasil dari upaya ini dapat berujud upaya-upaya kesehatan bersumber masyarakat (UKBM) seperti Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu), Pondok Bersalin Desa (Polindes), Bina Keluarga Balita (BKB), Warung Obat Desa (WOD), Panti Pemulihan Gizi, Dokter Kecil, Saka Bhakti Husada (SBH), Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren), Kelompok Pemakai Air (Pokmair), Desa Percontohan Kesehatan Lingkungan, Posyandu Usila, Panti Wreda, Pos Upaya Kesehatan Kerja (Pos UKK), Tim Pelaksana Kesehatan Jiwa Masyarakat (TPKJM), Taman Obat Keluarga (Toga), Dana Sehat, Tabungan Ibu Bersalin (Tabulin), dan lain-lain.  Melalui metode yang sama (yaitu pengorganisasian masyarakat) dapat pula dibentuk Badan Penyantun Puskesmas (BPP). Yaitu suatu badan yang menghimpun berbagai potensi masyarakat seperti tokoh masyarakat, LSM, dan dunia usaha, yang berperan sebagai mitra Puskesmas dalam pembangunan kesehatan di wilayah kecamatan.

Penggerakan atau pengorganisasian masyarakat diawali dengan membantu kelompok masyarakat tertentu untuk mengubah masalah yang dihadapi individu-individu menjadi masalah bersama. Setelah itu, lalu dirumuskan upaya bersama yang dapat dilaksanakan oleh kelompok untuk mengatasi masalah tersebut. Tidak jarang, untuk lebih meyakinkan kelompok dan dalam rangka perencanaan yang baik dalam mengatasi masalah, kelompok dibantu untuk melakukan survei sederhana (Community Self Survey atau CSS).

Dalam pelaksanaan pemecahan masalah, petugas kesehatan memberikan bantuan teknis dan sebaiknya juga material seperti obat, KMS, dan lain-lain. Jika petugas kesehatan tidak mampu memberikan bantuan material, kiranya, bekerja-sama dengan mitra potensial terkait.

  • Gerakan pemberdayaan di Rumah Sakit
  • Pemberdayaan Individu Pasien

Terdapat tiga kategori pasien, yaitu (1) pasien yang sedang sakit akut, (2) pasien yang dalam penyembuhan, dan (3) pasien dengan penyakit kronis. Selama pasien sakit akut, semua perhatian dan tenaga pasien serta petugas kesehatan dipusatkan pada upaya untuk menyelamatkan pasien dari ancaman maut dan dari penderitaan. Suasana seperti ini tidak tepat untuk melakukan promosi kesehatan. Namun petugas kesehatan sudah dapat mulai merencanakan upaya Pemberdayaan yang nanti akan dilakukannya. Pada saat pasien sudah memasuki masa penyembuhan, umumnya ia sangat ingin mengetahui seluk-beluk tentang penyakitnya. Walaupun tidak tertutup kemungkinan adanya pasien yang acuh-tak acuh karena mereka sudah terbebas dari penya-kitnya. Bagi pasien yang seperti ini, Pemberdayaan memang harus dimulai dari awal, yaitu dari menciptakan kesadaran akan adanya masalah. Adapun pasien dengan penyakit kronis dapat menunjukkan reaksi yang berbeda-beda seperti misalnya agresif, apatis, atau menarik diri. Hal ini karena penyakit kronis umumnya memberikan pengaruh fisik dan kejiwaan serta dampak sosial ekonomi kepada penderita-nya. Kepada pasien yang seperti ini, kesabaran dari petugas kesehatan sungguh sangat diharapkan, khususnya dalam pelaksanaan promosi kesehatan atau Pemberdayaan.

Tujuan pemberdayaan terhadap individu-individu pasien adalah agar yang bersangkutan:

  1. Mengembangkan pengertian dan sikap tentang penyakit yang dideritanya, sehingga tahu apa yang harus dilakukan dan kemudian terdorong untuk:
  • Membantu mempercepat penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatannya. Misalnya dengan selalu mengikuti secara tekun anjuran petugas kesehatan Rumah Sakit  dalam pengobatan penyakitnya.
  • Mencegah terserang kembali oleh penyakit yang sedang dideritanya.
  • Mencegah terjadinya penularan penyakitnya kepada orang lain.
  • Memberi penjelasan (penyuluhan) kepada orang lain agar tidak terserang oleh penyakit yang sedang dideritanya.
  1. Mengembangkan pengertian dan sikap tentang peman-faatan sarana kesehatan secara benar (sesuai dengan kaidah rujukan). Yaitu jika sakit sebaiknya tidak lang-sung ke Rumah Sakit, melainkan ke Puskesmas terdekat terlebih dulu. Selanjutnya, Puskesmaslah yang akan menentukan apakah ia perlu dikirim ke Rumah Sakit atau tidak.

Metode yang digunakan dalam hal ini dapat berupa pi-lihan atau kombinasi dari: dialog, demonstrasi, konseling, dan bimbingan, yang dilakukan di samping tempat tidur pasien (bedside health promotion). Bagi pasien-pasien yang sudah hampir sembuh, metode-metode yang dipilih dapat dilakukan secara berkelompok dalam satu ruangan. Media komunikasi yang digunakan dapat berupa pilihan atau kombinasi dari: lembar balik, gambar/foto, dan skema, atau media lain yang mudah digunakan dan dibawa (bila digunakan untuk bedside health promotion).

  • Pemberdayaan Keluarga/Kelompok

Pemberdayaan terhadap keluarga/kelompok ditujukan untuk mengembangkan pengertian dan kemauan guna mendukung pasien dalam bentuk:

  1. Dukungan moral dan atau material dalam penyem-buhan penyakit.
  2. Upaya mencegah agar penyakit yang diderita pasien tidak menular kepada orang lain.
  3. Upaya mencegah agar jika pasien sudah sembuh tidak terserang kembali oleh penyakit yang sama.

Jadi pemberdayaan keluarga/kelompok yang dilakukan di Rumah Sakit ini dapat pula disebut sebagai Bina Suasana di lingkungan Rumah Sakit. Pemberdayaan keluarga/kelompok di Rumah Sakit biasanya dilakukan sebelum atau sesudah keluarga/kelompok itu menjenguk pasien. Yaitu dengan jalan mengelompokan serta mengumpulkan mereka dalam ruangan-ruangan, sesuai dengan penyakit pasien yang dijenguknya.

Metode yang digunakan dapat berupa salah satu atau kombinasi dari: dialog, demonstrasi, diskusi dan bimbingan.

Media komunikasi yang digunakan juga dapat berupa pilihan atau kombinasi dari: slide, radio spot, poster, gambar/foto, dan skema, atau media lain.

  1. 7.       Langkah-langkah kegiatan gerakan pemberdayaan di masyarakat

Ada 5 (lima) langkah pokok dalam melakukan kegiatan pemberdayaan di masyarakat yaitu:

  1. Pendekatan kepada tokoh masyarakat
  2. Diagnosis masalah kesehatan oleh masyarakat
  3.       Perumusan upaya penanggulangan masalah kesehatan oleh masyarakat
  4. Pelaksanaan kegiatan penanggulangan masalah kesehatan oleh masyarakat
  5.       Pembinaan dan pengembangan.

Adapun langkah-langkah secara rinci tentang pelaksanaan kegiatan pemberdayaan di masyarakat adalah sebagai berikut:

a)        Pendekatan kepada tokoh masyarakat

Pendekatan tokoh masyarakat merupakan tahap pertama yang harus dilakukan sebelum meng-implementasikan suatu program di suatu wilayah tersebut. Tokoh masyarakat merupakan panutan masyarakat setempat. Semua yang telah disetujui tokoh masyarakat akan berjalan lancar, sebaliknya bila para tokoh masyarakat tidak merestui kegiatan tersebut, jalannya program akan tersendat-sendat. Pendekatan kepada mereka dapat dilakukan melalui hubungan antar manusia yang baik dan bersahabat

Forum untuk mendekati tokoh masyarakat ini antara lain melalui kunjungan rumah, pertemuan perorangan, pembicaraan informal di berbagai kesempatan dan pertemuan dengan kelompok kecil.

Setelah para tokoh masyarakat didekati secara interpersonal, perlu diadakan pembahasan bersama para tokoh masyarakat tersebut antara lain melalui pertemuan khusus, misalnya: melalui sarasehan dengan tokoh masyarakat untuk membahas program yang akan dilaksanakan di wilayahnya. Dapat juga menggunakan forum komunikasi yang sudah ada seperti “selapanan desa, rembuk desa” dan lain-lain, namun topik pembicaraan adalah program yang kita maksud.

b)       Diagnosis masalah kesehatan oleh masyarakat

Diagnosis masalah kesehatan oleh masyarakat merupakan kegiatan untuk mengenali keadaan dan masalah mereka sendiri, serta potensi yang mereka miliki untuk mengatasi masalah tersebut. Caranya dengan melakukan survei mawas diri (SDM). Melalui kegiatan SDM masyarakat diajak untuk mengenali permasalahan kesehatan yang mereka hadapi sehingga memperoleh gambaran masalah kesehatan menurut apa yang dirasakan dan disepakati keluarga serta dapat mengenali potensi yang ada disekeliling mereka. Pengenalan masalah kesehatan dapat dilakukan dengan berbagai cara misalnya :

  • Mengajak wakil keluarga untu melihat langsung cara hidup bersih dan sehat yang dilakukan oleh keluarga desa yang lebih maju dari desa mereka.
  • Melalui foto atau gambar
  • Menggunakan alat bantu pemantauan keadaan keluarga.

Macam data yang dikumpulkan

Data yang yang dikumpulkan adalah data umum, data khusus serta data perilaku.

  • Data umum yaitu data tentang potensi desa (merupakan data sekunder, dapat diperoleh dari data statistik desa)
  • Data khusus yaitu tentang identitas keluarga, keadaan kesehatan (misalnya diare, batuk pilek, malaria, Tb. Paru dan lain-lain)
  • Data perilaku, sehubungan dengan masalah kesehatan yang ada misalnya tentang diare. Maka data perilaku yang dimaksud adalah pengetahuan masyarakat tentang diare, penyebabnya, cara pencegahannya dan kebiasaan masyarakat yang berhubungan dengan diare dan lain-lain. Atas dasar hal tersebut diatas, petugas membantu membuat diagnosis masalah kesehatannya, membantu mencarikan cara yang tepat agar mempermudah mereka mengenali dan menggali potensi yang mereka miliki.

Hasil SDM setelah direkapitulasi dibawa ke forum Musyawarah Masyarakat Desa (MMD).

Dalam MMD ini diundang para pemimpin baik formal maupun informal, para tokoh masyarakat dan anggota masyarakat. Dalam pertemuan ini disampaikan temuan dari survei mawas diri untuk dibahas bersama upaya mengatasinya. Langkah-langkah pembahasan pada musyawarah masyarakat desa adalah sebagai berikut :

  • Pemaparan temuan serangkaian masalah kesehatan dan sederetan potensi/sumber daya setempat yang mungkin bisa digunakan untuk menanggulanginya.
  • Memandu peserta musyawarah untuk menggali tenaga, dana, material atau pemikiran inovatif lainnya.
  • Atas dasar prioritas masalah yang telah disusun dan potensi masyarakat yang tergali, dibuat rencana kegiatan penanggulangan masalah, lengkap dengan jadwal kegiatannya.

c)        Perumusan upaya penanggulangan masalah kesehatan oleh masyarakat dan perencanaan

Perumusan upaya penanggulangan masalah kesehatan oleh masyarakat atas dasar musyawarah ini merupakan kekuatan politis yang tangguh untuk menggali dan meningkatkan peran masyarakat, serta menjamin kelestarian program.

Peran petugas dalam musyawarah masyarakat ini adalah memandu jalannya musyawarah agar berjalan lancar dan mencapai tujuan.

Ada beberapa patokan yang dapat digunakan untuk menentukan skala prioritas masalah, antara lain :

  • Kegawatannya : besar/kecilnya akibat masalah kesehatan ini bagi masyarakat.
  • Mendesaknya : berkaitan dengan waktu. Kalau tidak segera ditanggulangi akan menimbulkan akibat yang serius.
  • Penyebarannya : semakin banyak penduduk atau semakin luas wilayah yang terkena, menjadi semakin penting.
  • Sumber daya yang dimiliki : kaitannya dengan kemampuan yang mereka miliki untuk mengatasi masalah tersebut dana, sarana, tenaga, dan teknologinya.

d)       Pelaksanaan kegiatan penanggulangan masalah kesehatan oleh masyarakat.

Pelaksanaan kegiatan penaggulangan masalah kesehatan oleh masyarakat, merupakan rangkaian penerapan kegiatan sebagai penjabaran dari perumusan upaya penaggulangan yang telah disusun menjadi suatu rencana kegiatan, yang dilaksanakan untuk mengatasi masalah kesehatan. Rangkaian kegiatan ini dapat berjangka waktu pendek, sedang dan lama. Namun minimal 1 tahun berjalan harus diadakan penilaian. Jenis kegiatan bervariasi mulai dari yang sangat sederhana sampai yang rumit, semua tergantung pada kesepakatan yang diambil dalam musyawarah masyarakat.

Pelaksanaan kegiatan penanggulangan masalah kesehatan oleh masyarakat dibagi menjadi 4 tahap yaitu :

1)    Tahap persiapan (P1)

Mempersiapkan tenaga pelaksana yaitu tenaga pembangunan desa yang sudah dipilih sebelumnya dan sudah melaksanakan SDM dengan pelatihan, orientasi, lokakarya dan lain-lain, pelatihan yang diselengarakan harus praktis, mengutamakan latihan keterampilan. Metode yang banyak digunakan dalam pelatihan antara lain demonstrasi, bermain peran/permainan simulasi, diskusi kelompok. Lamanya pelatihan tergantung jenis kegiatan yang akan dilaksanakan. Disamping pelatihan atau orientasi upaya untuk meningkatkan pengetahuan, kemauan dan keterampilan petugas dan masyarakat dapat melalui cara-cara sebagai berikut :

  • Diskusi kelompok terarah (DKT), bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kemauan, keterampilan keluarga/masyarakat dalam menggali dan mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi.
  • Kunjungan rumah (memberikan informasi yang lebih rinci).
  • Penyuluhan massa, menciptakan kesadaran dan membentuk opini yang mendukung

2)    Tahap pelaksanaan (P2)

Sesudah tenaga pelaksana dilatih, diharapkan mampu melaksanakan kegiatan yang telah disusun, sehingga secara bertahap dapat mengatasi masalah kesehatan yang mereka hadapi, sekaligus, membuktikan apakah “rencana” yang mereka susun sudah tepat. Namun demikian petugas perlu memantau bila ternyata ada kekeliruan bisa segera diperbaiki. Peran petugas adalah memberikan bimbingan teknis secara teratur dan berkesinambungan.

3)    Tahap menilai kegiatan yang sudah dilaksanakan

Penilaian merupakan suatu hal yang penting dalam proses perubahan. Masyarakat harus dapat melihat sampai dimana rencana kegiatan yang telah mereka susun sudah terlaksana. Apakah ada hal-hal yang perlu penyempurnaan atau perbaikan.

Pada tahap ini diharapkan masyarakat melakukan penilaian yang mereka susun. Penilaian dilakukan secara sederhana dan praktis.

e)        Pembinaan dan pengembangan.

Langkah terakhir dari serangkaian kegiatan pemberdayaan masyarakat adalah pembinaan dan pengembangan program. Setiap pelaksanaan program harus dibina agar mantap jalannya. Setelah mantap harus dikembangkan, agar tidak jenuh dan makin maju tingkat pencapaiannya.

Pemantapan dan pembinaan juga bermaksud memantapkan dan mambina pengetahuan, sikap, keterampilan dan motivasi para tenaga pembangunan desa, masyarakat dan keluarga sendiri di bidang kesehatan.

Pembinaan dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain :

  • Supervisi

Banyak hasil penilaian mengungkapkan bahwa supervisi petugas amat menentukan tingkat keberhasilan program. Oleh karena itu, supervisi secara berkala perlu dilakukan. Bila memungkinkan, supervisi ke bawah sebaiknya dikembangkan menjadi suatu sistem penilaian yang utuh.

  • Forum komunikasi

Forum komunikasi antara petugas lintas program dan sektor di tingkat kabupaten, maupun kecamatan merupakan wahana pemantauan yang baik. Pada forum ini dapat dibahas rencana supervisi terpadu, hasil supervisi dari petugas yang turun ke lapangan, sekaligus dapat membahas upaya untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ditemui di lapangan. Di lapangan atau desa, forum komunikasi ini juga perlu dibentuk sebagai wadah berkumpulnya pelaksana pembangunan desa dengan toloh masyarakat baik formal maupun non formal. Dalam forum ini pelaksana pembangunan desa dapat menyampaikan pelaksanaan rencana kegiatan yang telah disusun, hambatan-hambatan serta keberhasilan yang telah dicapai. Forum ini sekaligus sebagai wadah untuk pemecahan masalah, menyempurnakan rencana yang disusun dan lain-lain sehingga dapat berfungsi untuk pemantauan dan penilaian oleh masyarakat sendiri.

  • Menunjukkan film-film pembangunan kesehatan untuk memotivasi pelaksana pembangunan desa dan masyarakat.
  • Kunjungan tamu dari luar

Kegiatan ini dapat merangsang masyarakat untuk membenahi desanya karena akan kedatangan tamu,              namun  harus dijaga jangan sampai terlalu sering, bisa membosankan dan mengganggu kegiatan masyarakat.

  • Wisata karya ke tempat lain yang lebih maju

Kegiatan ini dapat memperluas wawasan, dan memotivasi masyarakat untuk lebih maju.

  • Perlombaan-perlombaan desa sehat secara teratur.
  • Penerbitan majalah dinding buatan sendiri yang memuat antara lain :

Kegiatan-kegiatan di desa bersangkutan, cara pencegahan penyakit yang sedang berjangkit, misalnya muntah berak, atau demam berdarah, pengalaman pelaksana pembangunan desa, dll

Pengembangan kegiatan pemberdayaan masyarakat

Pengembangan dilakukan apabila kegiatan di wilayah uji coba telah seperti yang diharapkan, maka perlu dilakukan kegiatan perluasan atau pengembangan ke daerah terutama di wilayah sekitarnya. Kegiatan yang dilakukan adalah:

  • Pertama-tama wilayah uji coba menyiapkan dokumentasi kegiatan serta hasil yang diperoleh
  • Selanjutnya mengundang tokoh masyarakat yang ada di wilayah sekitar daerah uji coba untuk mengikuti pertemuan serta melakukan peninjauan di wilayah yang sudah berhasil. Pada acara pertemuan para tamu ditunjukkan dokumentasi (slide, film atau foto) yang telah berhasil beserta gambaran proses kegiatannya.
  • Pada akhir pertemuan atau kunjungan dilakukan pembahasan kemungkinan menerapkan kegiatan serupa di wilayah sekitarnya.
  • Pengembangan kegiatan pemberdayaan ada dua macam yaitu: pengembangan daerah dan pengembangan program.
  • Dalam pengembangan kegiatan ke daerah lain harus dicegah adanya “penjiplakan”, namun harus berdasarkan kebutuhan, kemampuan serta karakteristik wilayah tersebut.
  1. 8.       Indikator keberhasilan
    1. Adanya petugas kesehatan yang mampu melakukan upaya gerakan pemberdayaan
    2. Adanya sarana yang mendukung kegiatan gerakan pemberdayaan kesehatan
    3.    Adanya forum komunikasi yang menjadi wadah kemitraan/ partisipasi masyarakat dalam pembangunan bidang kesehatan (PHBS)
    4. Adanya kader yang mampu menjadi fasilitator kesehatan di desa
    5.    Adanya data hasil SMD
    6.    Adanya rancangan kegiatan pembangunan kesehatan (PHBS) di desa hasil MMD
    7. Adanya kegiatan gerakan pemberdayaan masyarakat di bidang kesehatan
    8. Adanya dokumentasi proses dan hasil kegiatan
    9.    Adanya rencana tindak lanjut atau kegiatan yang berkesinambungan
    10.    Adanya dukungan sumberdaya maupun kebijakan dari pengambil keputusan maupun lintas sektor terkait.
  1. Kesimpulan
  1. Dalam melakukan gerakan pemberdayaan terlebih dahulu kegiatan harus difokuskan pada upaya pemberdayaan petugas agar siap dan mampu berperan secara tepat dalam membangun masyarakat.
  2. Mengembangkan masyarakat itu sendiri agar siap dan mampu berpartisipasi, memecahkan masalah yang dihadapinya secara mandiri.
  3. Setelah kegiatan di masyarakat berlangsung, tidak berarti pemberdayaan petugas sudah berakhir, namun interaksi timbal balik  antara petugas dan masyarakat masih terus berlangsung. Artinya, masih banyak tatangan maupun permasalahan yang bervariasi harus dihadapi oleh petugas dalam melestarikan maupun mengembangkan kegiatan yang telah dibangun. Untuk itu proses pemberdayaan petugas harus terus dilakukan, sehingga tetap semangat dan mampu berperan dengan tepat dalam membantu masyarakat.

 Disunting oleh         : Bambang Wahyudin

Anggota                     : PPPKMI (Perkumpulan Promosi dan Pendidikan Kesehatan Masyarakat Indonesia)

Sumber                       : Pusat Promosi Kesehatan Dan Litbangkes, 2005

No comments yet.

Leave a Reply